Jejak Erat Diplomasi Ulama Indonesia-Suriah: Mengungkap Utang Budi Sejarah

Jejak Erat Diplomasi Ulama Indonesia-Suriah: Mengungkap Utang Budi Sejarah

Di tengah arus informasi yang deras dan seringkali memecah belah, pernahkah Anda merasa khawatir bahwa generasi muda Muslim kehilangan jejak sejarahnya? Banyak yang mungkin tidak menyadari betapa dalamnya jalinan ukhuwah Islamiyah yang telah dirajut oleh para pendahulu kita, sebuah ikatan yang melampaui batas negara dan etnis. Kekosongan pemahaman ini menjadi celah berbahaya. Ketika akar sejarah persaudaraan antar-bangsa Muslim terlupakan, narasi sempit dan kebencian mudah menyusup, meracuni pemikiran umat.

Namun, secercah cahaya pengingat datang dari sebuah momen bersejarah. Pada Januari 2018, Indonesia mendapatkan kehormatan luar biasa dengan kunjungan delegasi ulama dan Mufti dari Damaskus, Suriah. Kunjungan ini bukan sekadar lawatan biasa; ia adalah penegasan kembali ikatan batin dan sejarah yang telah terjalin erat, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya diplomasi ulama dan pesan Islam yang moderat.

Panggung Persaudaraan: Momen Penting Kunjungan 2018

Puncak dari kunjungan bersejarah ini adalah partisipasi para ulama Suriah dalam serangkaian acara bergengsi yang menegaskan posisi Indonesia sebagai mercusuar Islam moderat di panggung dunia. Beberapa agenda utamanya meliputi:

  • Muktamar JATMAN di Pekalongan: Menjadi tamu kehormatan dalam Muktamar Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN), di mana Presiden RI, Joko Widodo, menyempatkan diri berfoto secara khusus bersama mereka.
  • Konferensi Internasional di Jakarta: Menjadi pembicara kunci dalam Konferensi Internasional Imam Al-Ghazali yang dihadiri tokoh nasional seperti Wakil Menlu Dr. AM. Fachir, Ketua Umum MUI K.H. Ma’ruf Amin, dan Ketua Umum PBNU Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj.
See also  Panduan Dakwah RadioQu Al-Bahjah Kalbar: Oase Spiritual di Jantung Borneo

Arsitek Diplomasi Santun: Peran Habib Luthfi & Tazakka

Di balik kesuksesan lawatan ini, terdapat peran sentral dari Maulana Habib Luthfi bin Yahya yang memercayakan Pondok Modern Tazakka, Batang, sebagai tuan rumah. Pimpinan Tazakka, K.H. Anizar Masyhadi, memandang amanah ini sebagai misi diplomasi santun (soft diplomacy) yang mempererat hubungan masyarakat kedua negara (people to people).

“Ini adalah bentuk hubungan erat bilateral kedua negara… Tazakka memiliki visi untuk menjadi perekat umat, sebuah lembaga yang terus merajut kebaikan,” ungkap Kiai Anizar, menegaskan komitmen mereka untuk mewujudkan bangsa yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

Fakta Sejarah: Utang Budi Kemerdekaan pada Suriah

Salah satu hikmah terbesar dari kunjungan ini adalah pengingat fakta sejarah yang sering terlupakan. Mufti Damaskus saat itu, Syaikh Dr. Adnan Afyouni, dengan tegas menyatakan bahwa persahabatan Suriah-Indonesia sangatlah erat. Fakta ini diperkuat oleh K.H. Anizar Masyhadi.

Berikut adalah poin-poin krusial peran Suriah dalam kemerdekaan Indonesia:

  • Pengakuan Pertama: Suriah adalah salah satu negara pertama yang mendukung dan memperjuangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia di tingkat internasional.
  • Aksi di PBB: Pada tahun 1945, diplomat Suriah bernama Faris Al-Khoury menjabat sebagai Ketua Dewan Keamanan PBB.
  • Palu Kemerdekaan: Beliaulah yang memimpin sidang dan mengetuk palu pengakuan kemerdekaan Indonesia di forum PBB. Ini adalah utang budi sejarah yang tidak boleh dilupakan.

Syaikh Dr. Adnan Afyouni menambahkan, “Duta Besar Indonesia sampai saat ini masih berada di Damaskus. Indonesia adalah sahabat sejati.”

3 Pesan Damai dari Damaskus untuk Nusantara

Di tengah gejolak yang melanda Timur Tengah, para ulama Suriah membawa pesan kesejukan yang sangat relevan. Berikut tiga pesan utama mereka untuk umat Islam di Indonesia:

  1. Amalkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin: Selalu menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, damai, dan penuh kasih sayang.
  2. Cintai Tanah Air: Menumbuhkan rasa cinta pada bangsa dan negara sebagai bagian dari keimanan, sesuai dengan adagium populer Hubbul wathan minal iman.
  3. Jadilah Insan Bermanfaat: Berusaha menjadi individu yang berprestasi dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, sesuai hadis “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”
See also  Haul Solo: Mengenal Samudra Cinta Al-Habib Ali Al-Habshi

Tanya Jawab Seputar Hubungan Ulama Indonesia-Suriah

Mengapa hubungan ulama Indonesia dan Suriah begitu istimewa?

Hubungan ini istimewa karena dilandasi ikatan sejarah yang sangat kuat. Suriah, melalui diplomatnya Faris Al-Khoury, adalah salah satu negara pertama yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di forum PBB pada tahun 1945. Persahabatan ini terus dipelihara melalui jalur diplomasi ulama.

Di mana saja lokasi utama kunjungan ulama Damaskus pada tahun 2018?

Lokasi utama kunjungan meliputi Pekalongan (Muktamar JATMAN), Jakarta (Konferensi Internasional Imam Al-Ghazali), dengan Pondok Modern Tazakka di Batang, Jawa Tengah, sebagai basis dan tuan rumah utama.

Apa pesan fundamental yang dibawa oleh para ulama Damaskus saat itu?

Pesan fundamentalnya adalah penegasan nilai Islam yang moderat dan damai, pentingnya cinta tanah air (hubbul wathan), serta dorongan agar umat Islam menjadi individu berprestasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Apa yang dimaksud ‘soft diplomacy’ dalam konteks ini?

Soft diplomacy merujuk pada upaya membangun hubungan antarnegara melalui jalur non-pemerintah seperti budaya, pendidikan, dan agama. Dalam hal ini, Habib Luthfi dan Pondok Modern Tazakka bertindak sebagai jembatan yang memperkuat hubungan Indonesia-Suriah di tingkat masyarakat.

Leave a reply

Enable Notifications OK No thanks